Varian COVID-19 ‘Cicada’ Berpotensi Dominan, Ahli Waspadai Risiko pada Anak
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 20 Jul 2026, 18.57

JAKARTA – Varian baru COVID-19 bernama ‘Cicada’ atau BA.3.2 dilaporkan mulai menyebar di berbagai negara dan berpotensi menjadi varian dominan, khususnya di Inggris. Para ahli memperingatkan varian turunan COVID-19 ini memiliki kemampuan tinggi dalam menghindari sistem kekebalan tubuh serta berisiko lebih sering menginfeksi anak-anak.
Profesor dari University of Cambridge, Ravi Gupta, menyatakan varian tersebut menunjukkan karakteristik berbeda dibandingkan varian yang beredar sebelumnya.
“Ini berbeda dari virus (COVID-19) yang telah kita hadapi selama dua tahun terakhir,” ujarnya, dikutip dari Mirror UK.
Ia menjelaskan, varian BA.3.2 memiliki sekitar 75 mutasi pada protein spike, yang berperan penting dalam proses virus masuk ke sel tubuh manusia. Kondisi ini membuat virus lebih mudah menyebar dan berpotensi meningkatkan angka infeksi.
“BA.3.2 sedang menjalani pengujian saat ini. Kami telah menelitinya dalam hal penghindaran kekebalan dan kekebalan yang kita semua miliki,” tambah Gupta.
Varian ‘Cicada’ merupakan turunan dari varian Omicron yang pertama kali muncul pada 2021. Virus ini sempat terdeteksi di Afrika Selatan pada 2024 sebelum kembali menyebar secara global. Saat ini, varian tersebut telah ditemukan di sekitar 25 negara dan juga terdeteksi dalam sistem air limbah di Amerika Serikat.
Sejumlah penelitian awal menunjukkan varian ini kemungkinan lebih sering menginfeksi anak-anak, terutama mereka yang belum memiliki kekebalan, baik dari vaksinasi maupun infeksi sebelumnya. Kondisi ini dinilai berkaitan dengan rendahnya tingkat imunisasi COVID-19 pada kelompok usia tersebut di beberapa negara.
Dari sisi gejala, varian ‘Cicada’ tidak menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan varian sebelumnya, seperti sakit tenggorokan, batuk, hidung tersumbat, kelelahan, sakit kepala, dan demam. Namun, peningkatan kemampuan penularan tetap berpotensi memicu lonjakan kasus yang berdampak pada meningkatnya jumlah pasien dengan gejala berat.
Data dari Centers for Disease Control and Prevention menunjukkan bahwa pada periode November 2025 hingga Januari 2026, varian BA.3.2 menyumbang sekitar 30 persen kasus di sejumlah negara Eropa seperti Denmark, Jerman, dan Belanda. Meski demikian, belum terlihat lonjakan total kasus secara signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Dari sisi dampak, kemunculan varian baru ini berpotensi meningkatkan beban sistem kesehatan, terutama jika terjadi lonjakan kasus pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan individu dengan sistem imun lemah. Selain itu, risiko penularan yang lebih tinggi dapat memengaruhi aktivitas pendidikan dan sosial jika tidak diantisipasi dengan baik.
Para ahli menegaskan vaksinasi tetap menjadi langkah perlindungan utama untuk mencegah gejala berat dan komplikasi. Pemerintah di berbagai negara saat ini terus memantau perkembangan varian ‘Cicada’, memperkuat surveilans, serta menyiapkan langkah mitigasi guna mengantisipasi potensi gelombang baru COVID-19.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Kemensos Proses Usulan Sekolah Rakyat di Landak, Ditargetkan Masuk Tahap III Pembangunan 2026
JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) mulai memproses usulan pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, setelah pemerintah daerah menyelesaikan seluruh persyaratan administrasi dan kesi

Bappenas dan Pemerintah Daerah Perkuat Sinergi Percepatan Pembangunan Papua Melalui RAPPP 2025–2029
MIMIKA – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas bersama para gubernur serta bupati dan wali kota se-Tanah Papua menegaskan komitmen untuk mempercepat implementasi Rencana Aksi Percepatan Pe

Satgas TMMD Kodim 1707/Merauke Hadirkan Layanan Kesehatan Door to Door bagi Warga Kampung Wanam
MERAUKE – Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 Tahun Anggaran 2026 Kodim 1707/Merauke tidak hanya melaksanakan pembangunan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyaraka
