UNIFIL Protes Israel Hancurkan Kamera Pengawas di Markas Naqoura
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 20 Jul 2026, 18.57

Pasukan penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) menyatakan akan mengajukan protes resmi terhadap Israel setelah tentaranya menghancurkan kamera pengawas di markas UNIFIL di Naqoura, Lebanon selatan, pada pekan lalu. Insiden ini dinilai mengancam keselamatan personel dan mengganggu operasi pemantauan di wilayah konflik.
Juru Bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, mengatakan seluruh kamera pengawas yang menghadap area sekitar markas dirusak oleh tentara Israel. Kamera tersebut berfungsi untuk memantau aktivitas di sekitar pangkalan guna memastikan keamanan personel militer dan sipil yang bertugas.
“Penghancuran kamera pengawas ini menimbulkan risiko serius bagi pasukan perdamaian kami,” ujar Ardiel dalam pernyataan resmi, Senin (6/4/2026).
Ia menegaskan, UNIFIL akan segera menyampaikan nota protes resmi sebagai langkah diplomatik atas tindakan tersebut. “Kami akan mengajukan protes resmi terkait insiden ini,” katanya.
UNIFIL menilai tindakan tersebut berpotensi melanggar kewajiban internasional yang mengharuskan semua pihak melindungi fasilitas dan personel PBB, termasuk perangkat pengawasan yang menjadi bagian penting dari sistem keamanan misi perdamaian.
Ketegangan di kawasan perbatasan Israel–Lebanon dalam beberapa waktu terakhir memang meningkat, seiring eskalasi konflik di Timur Tengah. Sebelumnya, sejumlah insiden juga dilaporkan melibatkan pasukan penjaga perdamaian, termasuk serangan yang menyebabkan korban di kalangan personel internasional.
Dalam konteks misi UNIFIL, keberadaan sistem pemantauan seperti kamera pengawas menjadi krusial untuk mendeteksi potensi ancaman serta menjaga stabilitas di wilayah operasi yang rawan konflik. Gangguan terhadap fasilitas tersebut dapat memperbesar risiko keamanan bagi pasukan di lapangan.
Dari sisi dampak, insiden ini berpotensi memperburuk hubungan antara pasukan penjaga perdamaian dan pihak-pihak yang terlibat konflik, sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan personel internasional. Selain itu, terganggunya sistem pengawasan dapat mengurangi efektivitas misi dalam menjaga stabilitas kawasan.
UNIFIL menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk otoritas internasional, guna memastikan perlindungan terhadap personel dan fasilitas PBB tetap terjaga. Langkah diplomatik lanjutan, termasuk penyelidikan atas insiden tersebut, juga akan ditempuh dalam waktu dekat.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Kemensos Proses Usulan Sekolah Rakyat di Landak, Ditargetkan Masuk Tahap III Pembangunan 2026
JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) mulai memproses usulan pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, setelah pemerintah daerah menyelesaikan seluruh persyaratan administrasi dan kesi

Bappenas dan Pemerintah Daerah Perkuat Sinergi Percepatan Pembangunan Papua Melalui RAPPP 2025–2029
MIMIKA – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas bersama para gubernur serta bupati dan wali kota se-Tanah Papua menegaskan komitmen untuk mempercepat implementasi Rencana Aksi Percepatan Pe

Satgas TMMD Kodim 1707/Merauke Hadirkan Layanan Kesehatan Door to Door bagi Warga Kampung Wanam
MERAUKE – Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 Tahun Anggaran 2026 Kodim 1707/Merauke tidak hanya melaksanakan pembangunan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyaraka
