Tokoh Indonesia Timur Ajak Publik Dukung Pembangunan Papua dan Tidak Terjebak Narasi Sepihak
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 20 Jul 2026, 18.59

PAPUA — Pembangunan Papua terus menunjukkan perkembangan melalui berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dijalankan pemerintah di sejumlah sektor. Di tengah percepatan pembangunan tersebut, tokoh masyarakat Indonesia Timur mengajak publik untuk tidak terjebak pada narasi sepihak yang dinilai dapat memperkuat stigma negatif terhadap Papua, termasuk melalui film dokumenter Pesta Babi yang tengah menjadi sorotan publik.
Ketua Umum Aliansi Indonesia Timur, Emanuel Mikael Kota, mengatakan Papua saat ini sedang bergerak menuju perubahan melalui penguatan ekonomi masyarakat, pendidikan, dan pembangunan wilayah yang semakin merata. Menurutnya, penggambaran Papua hanya dari sisi konflik tidak mencerminkan kondisi masyarakat Papua secara utuh.
“Kalau narasi yang dibangun hanya menonjolkan berbagai persoalan dan tantangan sosial, tentu publik luar akan melihat Papua secara tidak utuh. Padahal masyarakat Papua hari ini sedang berupaya menjaga kedamaian, membangun ekonomi kampung, meningkatkan pendidikan anak-anak, dan memperkuat kehidupan adat,” ujar Emanuel Mikael Kota.
Ia menilai film dokumenter tidak dapat dijadikan satu-satunya rujukan dalam memahami dinamika Papua yang memiliki persoalan sosial, budaya, dan pembangunan yang kompleks. Emanuel mengatakan masyarakat juga perlu melihat berbagai kemajuan yang tengah berlangsung di sejumlah wilayah Papua.
“Film dokumenter harus dilihat secara kritis dan proporsional. Jangan sampai publik diarahkan pada opini tertentu tanpa menghadirkan konteks yang lengkap. Papua bukan hanya cerita konflik. Ada banyak kemajuan, ruang dialog, pembangunan infrastruktur, pelayanan kesehatan, dan kehidupan masyarakat adat yang damai yang juga harus diangkat,” katanya.
Polemik mengenai film Pesta Babi mencuat setelah film tersebut mengangkat isu pembangunan dan proyek strategis pemerintah di Papua. Sejumlah pihak menilai film itu merupakan bentuk kritik sosial terhadap pembangunan, sementara pihak lain menilai narasi yang disampaikan cenderung memperkuat stigma negatif terhadap Papua dan pembangunan nasional di wilayah tersebut.
Di sisi lain, pemerintah terus memperkuat pembangunan melalui PSN yang difokuskan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Salah satu program yang tengah dikembangkan ialah pembukaan kawasan pertanian sekitar 800 hektare di Kampung Tulem, Distrik Witawaya, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Program tersebut ditujukan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal. Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan menilai kawasan tersebut memiliki potensi strategis untuk dikembangkan sebagai sentra produksi pangan.
Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, mengatakan wilayah Tulem memiliki posisi strategis karena berada di pusat aktivitas masyarakat Wamena sehingga dinilai tepat untuk pengembangan sektor pertanian berkelanjutan.
“Wilayah Tulem sangat potensial karena berada di pusat aktivitas Wamena dan dapat menjadi kawasan pengembangan pangan yang mendukung kebutuhan masyarakat Papua Pegunungan,” ujar Ones Pahabol.
Selain sektor pertanian, pembangunan Jalan Trans Papua ruas Jayapura–Wamena segmen Mamberamo–Elelim sepanjang 50,14 kilometer juga terus berjalan guna memperkuat konektivitas antarwilayah di Papua. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat memperlancar distribusi logistik sekaligus membuka akses ekonomi masyarakat di wilayah pedalaman.
Pelaksana Tugas Direktur HMTP, Kun Hartawan, mengatakan pembangunan jalan tersebut juga memberikan dampak ekonomi langsung melalui keterlibatan tenaga kerja lokal dalam proses pengerjaan proyek.
“Keterlibatan masyarakat Papua dalam pembangunan jalan ini menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan,” kata Kun Hartawan.
Menurut Emanuel, masyarakat Indonesia Timur saat ini lebih membutuhkan stabilitas sosial dan ruang pembangunan dibanding polemik yang berpotensi memecah persatuan. Ia berharap seluruh pihak dapat lebih bijak dalam mengangkat isu Papua agar tidak memperkuat stigma negatif di tingkat nasional maupun internasional.
“Kami orang Timur menjaga kedamaian di tanah kami sendiri. Karena itu kami berharap jangan ada pihak yang membuat kisruh baru lewat komentar yang tidak konstruktif. Papua membutuhkan solusi dan persatuan, bukan perang opini,” tegas Emanuel.
Ia menambahkan, pembangunan di Papua perlu dipandang sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan membuka masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
“Jangan jadikan Papua sebagai panggung narasi konflik yang terus diulang-ulang. Yang dibutuhkan masyarakat hari ini adalah rasa aman, pembangunan, dan masa depan yang lebih baik,” tutup Emanuel Mikael Kota.
Ke depan, pemerintah bersama pemerintah daerah dan tokoh masyarakat Papua berkomitmen memperkuat pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan melalui peningkatan infrastruktur, pengembangan ekonomi masyarakat, serta pelibatan masyarakat adat dalam berbagai program pembangunan strategis di Papua.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Kemensos Proses Usulan Sekolah Rakyat di Landak, Ditargetkan Masuk Tahap III Pembangunan 2026
JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) mulai memproses usulan pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, setelah pemerintah daerah menyelesaikan seluruh persyaratan administrasi dan kesi

Bappenas dan Pemerintah Daerah Perkuat Sinergi Percepatan Pembangunan Papua Melalui RAPPP 2025–2029
MIMIKA – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas bersama para gubernur serta bupati dan wali kota se-Tanah Papua menegaskan komitmen untuk mempercepat implementasi Rencana Aksi Percepatan Pe

Satgas TMMD Kodim 1707/Merauke Hadirkan Layanan Kesehatan Door to Door bagi Warga Kampung Wanam
MERAUKE – Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 Tahun Anggaran 2026 Kodim 1707/Merauke tidak hanya melaksanakan pembangunan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyaraka
