Tiga Personel TNI Terluka dalam Ledakan di Fasilitas PBB Lebanon, UNIFIL Selidiki Sumber Serangan
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 20 Jul 2026, 18.57

JAKARTA – Tiga personel Indonesia yang tergabung dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon dilaporkan terluka akibat ledakan di fasilitas PBB dekat El Adeisse, Lebanon selatan, Jumat (3/4) sore waktu setempat. Dua di antaranya mengalami luka serius dan telah dievakuasi ke rumah sakit, sementara penyebab ledakan masih dalam penyelidikan.
Juru Bicara UNIFIL Kandice Ardiel menyatakan insiden tersebut terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di wilayah operasi pasukan penjaga perdamaian.
“Sore ini, sebuah ledakan di fasilitas PBB di dekat El Adeisse melukai tiga penjaga perdamaian, dua di antaranya mengalami luka serius,” ujar Ardiel dalam pernyataan resmi yang disampaikan melalui Pusat Informasi PBB di Indonesia (UNIC).
Ardiel menegaskan pihaknya belum dapat memastikan asal-usul ledakan tersebut.
“Kami belum mengetahui asal-usul ledakan tersebut,” katanya, seraya menambahkan bahwa seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis.
Ia juga mengingatkan seluruh pihak yang terlibat konflik untuk menghormati keberadaan pasukan penjaga perdamaian.
UNIFIL, kata dia, meminta agar “semua pihak memastikan keselamatan personel penjaga perdamaian dan menghindari aktivitas tempur di sekitar area operasi.”
Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah tiga prajurit TNI gugur dalam dua serangan terpisah di Lebanon selatan. Pada 29 Maret 2026, Praka Farizal Rhomadhon tewas akibat tembakan artileri di sekitar Adchit Al Qusayr. Sehari kemudian, Kapten Inf. Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan gugur dalam serangan terhadap konvoi yang mereka kawal di dekat Bani Hayyan.
Rangkaian insiden tersebut terjadi di tengah meningkatnya konflik antara militer Israel dan kelompok Hizbullah di wilayah perbatasan Lebanon selatan. Sejak awal Maret 2026, intensitas serangan meningkat, termasuk pelanggaran wilayah udara dan baku tembak lintas perbatasan, yang turut berdampak pada keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB.
Dari sisi dampak, situasi ini meningkatkan risiko keselamatan bagi personel Indonesia yang bertugas dalam misi internasional serta berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan. Selain itu, eskalasi konflik dapat mengganggu mandat UNIFIL dalam menjaga gencatan senjata dan stabilitas di Lebanon selatan.
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa memastikan bahwa penyelidikan atas serangkaian insiden yang melibatkan pasukan penjaga perdamaian, termasuk yang menewaskan tiga prajurit Indonesia, masih berlangsung. PBB menyatakan hasil investigasi akan diumumkan dalam waktu dekat sebagai dasar penentuan tanggung jawab dan langkah lanjutan untuk menjamin keamanan personel di lapangan.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Kemensos Proses Usulan Sekolah Rakyat di Landak, Ditargetkan Masuk Tahap III Pembangunan 2026
JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) mulai memproses usulan pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, setelah pemerintah daerah menyelesaikan seluruh persyaratan administrasi dan kesi

Bappenas dan Pemerintah Daerah Perkuat Sinergi Percepatan Pembangunan Papua Melalui RAPPP 2025–2029
MIMIKA – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas bersama para gubernur serta bupati dan wali kota se-Tanah Papua menegaskan komitmen untuk mempercepat implementasi Rencana Aksi Percepatan Pe

Satgas TMMD Kodim 1707/Merauke Hadirkan Layanan Kesehatan Door to Door bagi Warga Kampung Wanam
MERAUKE – Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 Tahun Anggaran 2026 Kodim 1707/Merauke tidak hanya melaksanakan pembangunan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyaraka
