Prajurit TNI Gugur di Lebanon Usai Terluka Parah, UNIFIL Kecam Serangan ke Pasukan Perdamaian
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 20 Jul 2026, 18.58

Beirut -- Seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam misi Pasukan Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa, Praka Rico Pramudia (31), gugur setelah menjalani perawatan akibat luka parah dari serangan di Lebanon. Kabar duka ini disampaikan oleh United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) pada Jumat (24/4/2026), setelah korban dirawat di rumah sakit di Beirut sejak insiden yang terjadi pada 29 Maret 2026 di Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan.
UNIFIL dalam pernyataan resminya menyampaikan penyesalan mendalam atas wafatnya prajurit TNI tersebut. “UNIFIL menyesalkan wafatnya Kopral Rico Pramudia hari ini, yang terluka parah akibat ledakan proyektil di pangkalan tempatnya bertugas,” demikian pernyataan UNIFIL.
Lembaga tersebut juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban, TNI, serta pemerintah dan rakyat Indonesia. “UNIFIL menyampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga dan teman-teman Kopral Pramudia serta Tentara Nasional Indonesia dan Pemerintah serta rakyat Republik Indonesia atas kehilangan yang tragis dan tak tergantikan ini,” lanjut pernyataan tersebut.
UNIFIL menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. “Serangan yang disengaja terhadap penjaga perdamaian merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan resolusi Dewan Keamanan 1701, dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang,” tegasnya.
Insiden yang menyebabkan gugurnya Praka Rico terjadi pada Minggu malam, 29 Maret 2026, saat markas UNIFIL di dekat Adchit Al Qusayr diserang. Serangan tersebut juga menewaskan satu prajurit TNI lainnya, Praka Farizal Rhomadhon, serta melukai tiga personel, termasuk Rico yang mengalami luka berat sebelum akhirnya meninggal dunia dalam perawatan.
Keterlibatan TNI dalam misi UNIFIL merupakan bagian dari komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia di bawah mandat PBB. Sejak lama, Indonesia menjadi salah satu kontributor terbesar pasukan penjaga perdamaian, termasuk di Lebanon yang rawan konflik akibat ketegangan berkepanjangan di kawasan tersebut.
Kejadian ini menyoroti tingginya risiko yang dihadapi pasukan perdamaian di wilayah konflik. Bagi masyarakat Indonesia, gugurnya prajurit TNI menjadi pengingat atas kontribusi nyata dalam diplomasi pertahanan dan misi kemanusiaan global, sekaligus memunculkan perhatian terhadap perlindungan personel di medan tugas internasional.
Saat ini, proses administrasi pemulangan jenazah Praka Rico Pramudia ke Indonesia tengah diselesaikan dengan dukungan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beirut. Pemerintah bersama TNI juga terus berkoordinasi dengan pihak PBB untuk memastikan keamanan personel yang masih bertugas serta mengevaluasi langkah perlindungan ke depan.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Kemensos Proses Usulan Sekolah Rakyat di Landak, Ditargetkan Masuk Tahap III Pembangunan 2026
JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) mulai memproses usulan pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, setelah pemerintah daerah menyelesaikan seluruh persyaratan administrasi dan kesi

Bappenas dan Pemerintah Daerah Perkuat Sinergi Percepatan Pembangunan Papua Melalui RAPPP 2025–2029
MIMIKA – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas bersama para gubernur serta bupati dan wali kota se-Tanah Papua menegaskan komitmen untuk mempercepat implementasi Rencana Aksi Percepatan Pe

Satgas TMMD Kodim 1707/Merauke Hadirkan Layanan Kesehatan Door to Door bagi Warga Kampung Wanam
MERAUKE – Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 Tahun Anggaran 2026 Kodim 1707/Merauke tidak hanya melaksanakan pembangunan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyaraka
