Prabowo Tegaskan TNI ke Gaza Bukan untuk Lucuti Senjata Hamas
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 20 Jul 2026, 18.57

Jakarta, 21 Maret 2026 — Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa rencana pengiriman pasukan TNI ke Gaza bukan bertujuan untuk melucuti senjata kelompok Hamas, melainkan untuk misi kemanusiaan melindungi warga sipil.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden dalam tayangan “Presiden Prabowo Menjawab”, yang dikutip pada Jumat (21/3).
“Kita tidak mau terlibat dalam mengambil senjata atau deweaponization dari Hamas. Yang kita mau adalah menjaga rakyat sipil dari serangan mana pun,” ujar Prabowo.
Fokus pada Misi Perdamaian
Presiden menjelaskan bahwa rencana pengiriman pasukan merupakan bagian dari komitmen panjang Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina.
Menurutnya, Indonesia hanya akan terlibat dalam misi perdamaian yang bersifat netral dan tidak memihak dalam konflik bersenjata.
“Kita selalu membela kemerdekaan Palestina. Ini bagian dari perjuangan bangsa Indonesia sejak dulu,” tegasnya.
Butuh Persetujuan Semua Pihak
Prabowo menekankan bahwa keterlibatan Indonesia dalam misi tersebut harus mendapatkan persetujuan dari berbagai pihak, termasuk negara-negara mayoritas Muslim seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki, Pakistan, Qatar, dan Mesir.
Selain itu, persetujuan dari pihak yang menguasai wilayah Gaza secara de facto juga menjadi syarat penting.
“Hamas harus menerima kita. Karena kita ingin menjadi pasukan penjaga perdamaian,” jelasnya.
Tidak Akan Terlibat Konfrontasi
Dalam skema Board of Peace (BoP), setiap negara memiliki batasan keterlibatan (national caveats). Indonesia, menurut Presiden, mengambil posisi tegas untuk tidak terlibat dalam aksi militer terhadap Hamas.
“Kita tidak mau terlibat dalam aksi militer terhadap Hamas,” katanya.
Pengiriman Pasukan Masih Ditunda
Meski sebelumnya Indonesia berencana mengirim hingga 8.000 personel TNI untuk misi stabilisasi kemanusiaan bersama International Stabilization Force (ISF), rencana tersebut kini ditangguhkan.
Penundaan dilakukan menyusul meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
“Secara de facto semuanya masih on hold,” ungkap Presiden.
Pemerintah, lanjutnya, masih terus melakukan konsultasi dengan berbagai pihak sambil menunggu situasi geopolitik yang lebih kondusif serta mandat resmi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Komitmen Kemanusiaan Tetap Dijaga
Meski pengiriman pasukan ditunda, Presiden memastikan bahwa komitmen Indonesia dalam mendukung perdamaian dan perlindungan warga sipil di Palestina tidak berubah.
Indonesia tetap siap berkontribusi dalam misi perdamaian internasional, selama prinsip netralitas, kemanusiaan, dan persetujuan semua pihak dapat terpenuhi.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Kemensos Proses Usulan Sekolah Rakyat di Landak, Ditargetkan Masuk Tahap III Pembangunan 2026
JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) mulai memproses usulan pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, setelah pemerintah daerah menyelesaikan seluruh persyaratan administrasi dan kesi

Bappenas dan Pemerintah Daerah Perkuat Sinergi Percepatan Pembangunan Papua Melalui RAPPP 2025–2029
MIMIKA – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas bersama para gubernur serta bupati dan wali kota se-Tanah Papua menegaskan komitmen untuk mempercepat implementasi Rencana Aksi Percepatan Pe

Satgas TMMD Kodim 1707/Merauke Hadirkan Layanan Kesehatan Door to Door bagi Warga Kampung Wanam
MERAUKE – Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 Tahun Anggaran 2026 Kodim 1707/Merauke tidak hanya melaksanakan pembangunan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyaraka
