Penyaluran Makan Bergizi Gratis Tetap di Sekolah, Terancam Terhenti Saat WFH Diterapkan
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 20 Jul 2026, 18.57

Jakarta, 27 Maret 2026 — Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berbasis kehadiran siswa di sekolah, di tengah rencana pemerintah menerapkan kebijakan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan yang berpotensi berdampak pada kegiatan belajar mengajar.
Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menegaskan bahwa distribusi MBG dirancang dilakukan langsung di lokasi penerima manfaat, yakni sekolah, dengan mempertimbangkan kualitas makanan dan efektivitas program. “Basis penyaluran MBG pada menu segar dan kehadiran penerima manfaat di lokasi terdaftar. Jadi untuk anak sekolah penyaluran di sekolah. Jika peserta didik hadir di sekolah, maka MBG akan disalurkan,” ujar Dadan dalam keterangannya, Jumat (27/3/2026).
Ia menambahkan bahwa penggunaan menu segar menjadi alasan utama distribusi tidak dilakukan di luar lokasi yang telah ditetapkan. “BGN fokus pada peningkatan kualitas dan efektivitas program,” katanya.
Dengan skema tersebut, penyaluran MBG tidak akan dilakukan apabila siswa tidak hadir di sekolah, termasuk pada hari ketika pembelajaran dilakukan dari rumah. Hingga saat ini, pemerintah belum menjelaskan mekanisme alternatif distribusi MBG pada kondisi tersebut.
Kebijakan ini muncul seiring rencana pemerintah menerapkan WFH minimal satu hari dalam sepekan sebagai bagian dari strategi efisiensi energi di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat dinamika geopolitik global. Kebijakan tersebut telah diputuskan dan tinggal menunggu pengumuman resmi setelah mendapat arahan Presiden Prabowo Subianto.
Secara historis, pola pembelajaran jarak jauh pernah diterapkan secara luas saat pandemi COVID-19, yang juga berdampak pada distribusi berbagai program bantuan berbasis sekolah. Dalam konteks MBG, pendekatan distribusi berbasis lokasi dinilai penting untuk menjaga kualitas gizi karena makanan disiapkan dalam kondisi segar.
Dari sisi dampak, kebijakan WFH yang berpotensi diikuti dengan pembelajaran dari rumah dapat menyebabkan sebagian siswa tidak menerima manfaat MBG pada hari tertentu. Hal ini berpotensi memengaruhi tujuan program dalam meningkatkan asupan gizi anak, terutama bagi kelompok yang bergantung pada bantuan tersebut.
Di sisi lain, pemerintah menyatakan bahwa penerapan WFH tidak akan berlaku untuk seluruh sektor, termasuk layanan publik dan kegiatan yang membutuhkan kehadiran fisik. Penyesuaian kebijakan juga akan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk keberlangsungan program prioritas seperti MBG.
Pemerintah selanjutnya akan mengumumkan secara resmi skema pelaksanaan WFH serta kemungkinan penyesuaian teknis, termasuk koordinasi lintas kementerian untuk memastikan program bantuan tetap berjalan optimal di tengah perubahan pola aktivitas masyarakat.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Kemensos Proses Usulan Sekolah Rakyat di Landak, Ditargetkan Masuk Tahap III Pembangunan 2026
JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) mulai memproses usulan pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, setelah pemerintah daerah menyelesaikan seluruh persyaratan administrasi dan kesi

Bappenas dan Pemerintah Daerah Perkuat Sinergi Percepatan Pembangunan Papua Melalui RAPPP 2025–2029
MIMIKA – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas bersama para gubernur serta bupati dan wali kota se-Tanah Papua menegaskan komitmen untuk mempercepat implementasi Rencana Aksi Percepatan Pe

Satgas TMMD Kodim 1707/Merauke Hadirkan Layanan Kesehatan Door to Door bagi Warga Kampung Wanam
MERAUKE – Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 Tahun Anggaran 2026 Kodim 1707/Merauke tidak hanya melaksanakan pembangunan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyaraka
