PBB Dukung Rekonstruksi Gaza, Indonesia Perkuat Peran Lewat Board of Peace
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 20 Jul 2026, 18.57

Jakarta, 22 Maret 2026 — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan kesiapannya bekerja sama dengan Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) dalam upaya rekonstruksi Gaza yang hancur akibat konflik berkepanjangan. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa kolaborasi global mulai mengarah pada pemulihan kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut.
Tokoh kunci dalam pernyataan ini, Antonio Guterres, menegaskan bahwa kerja sama tersebut telah sesuai dengan mandat Dewan Keamanan PBB dan prinsip-prinsip hukum internasional. Ia menyebut bahwa fokus utama BoP adalah membantu pembangunan kembali Gaza, bukan menjadi aktor utama dalam penyelesaian konflik politik Israel–Palestina.
Menurut Guterres, penyelesaian konflik tetap membutuhkan keterlibatan luas komunitas internasional dengan pendekatan diplomasi yang komprehensif. Karena itu, peran BoP diposisikan sebagai pelengkap dalam aspek kemanusiaan dan rekonstruksi, bukan pengganti mekanisme perdamaian global.
Di tengah dinamika tersebut, Indonesia termasuk dalam jajaran negara yang telah bergabung dengan BoP. Langkah ini memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang aktif mendorong solusi damai sekaligus berkontribusi nyata dalam pemulihan pascakonflik.
Sikap ini juga selaras dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya peran Indonesia dalam misi kemanusiaan global, tanpa terlibat dalam konflik bersenjata. Indonesia menegaskan bahwa keterlibatannya diarahkan pada perlindungan warga sipil, bantuan kemanusiaan, serta rekonstruksi infrastruktur.
Meski sebelumnya sempat menuai pro dan kontra, BoP kini mulai mendapatkan legitimasi yang lebih luas. Sekitar 26 negara telah bergabung, termasuk Indonesia, menunjukkan meningkatnya dukungan internasional terhadap inisiatif tersebut. Namun, sejumlah negara Eropa seperti Inggris dan Prancis masih memilih untuk tidak bergabung atau hanya berstatus sebagai pengamat.
Awalnya, pembentukan BoP oleh Donald Trump sempat menuai penolakan, termasuk dari PBB. Kekhawatiran muncul karena dianggap berpotensi menyaingi peran PBB. Namun, seiring perkembangan situasi dan kebutuhan mendesak untuk rekonstruksi Gaza, pendekatan kolaboratif kini menjadi pilihan yang lebih realistis.
Perkembangan ini juga menjadi konteks penting bagi keputusan Indonesia yang menunda pengiriman pasukan TNI ke Gaza. Dengan situasi keamanan yang belum stabil, Indonesia memilih langkah hati-hati sambil tetap aktif dalam jalur diplomasi dan kerja sama internasional.
Dengan bergabung dalam BoP dan mendapat dukungan PBB, peran Indonesia kini semakin strategis—tidak hanya sebagai pengamat, tetapi juga sebagai kontributor aktif dalam membangun kembali Gaza dan menjaga harapan perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Kemensos Proses Usulan Sekolah Rakyat di Landak, Ditargetkan Masuk Tahap III Pembangunan 2026
JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) mulai memproses usulan pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, setelah pemerintah daerah menyelesaikan seluruh persyaratan administrasi dan kesi

Bappenas dan Pemerintah Daerah Perkuat Sinergi Percepatan Pembangunan Papua Melalui RAPPP 2025–2029
MIMIKA – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas bersama para gubernur serta bupati dan wali kota se-Tanah Papua menegaskan komitmen untuk mempercepat implementasi Rencana Aksi Percepatan Pe

Satgas TMMD Kodim 1707/Merauke Hadirkan Layanan Kesehatan Door to Door bagi Warga Kampung Wanam
MERAUKE – Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 Tahun Anggaran 2026 Kodim 1707/Merauke tidak hanya melaksanakan pembangunan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyaraka
