Pakar Unair Ingatkan Potensi “Godzilla” El Nino 2026, Pemerintah Diminta Percepat Mitigasi Air dan Pangan
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 20 Jul 2026, 18.58

SURABAYA – Pakar Manajemen Bencana Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Hijrah Saputra memperingatkan potensi menguatnya fenomena El Nino “Godzilla” pada 2026 yang berisiko memicu kekeringan ekstrem di Indonesia. Peringatan ini disampaikan menyusul laporan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat yang mencatat peluang kemunculan El Nino mencapai 62 persen pada periode Juni–Agustus 2026, di tengah meningkatnya risiko krisis iklim global.
Hijrah menyebut El Nino dalam kategori ekstrem memiliki dampak jauh lebih berat dibanding fenomena El Nino pada umumnya. “El Nino biasa seperti demam 38 derajat, sedangkan El Nino Godzilla bisa diibaratkan 40 derajat atau lebih,” kata Hijrah dalam keterangannya, Senin (27/4/2026).
Ia menjelaskan, secara ilmiah fenomena ini terjadi akibat melemahnya angin pasat yang mendorong pergeseran massa air laut hangat ke wilayah Pasifik tengah dan timur. Kondisi tersebut meningkatkan suhu permukaan laut hingga 1,5–2,5 derajat Celsius di atas normal, sehingga menggeser pusat pembentukan awan hujan menjauh dari wilayah Indonesia.
“Secara teknis, kekuatan fenomena ini diukur melalui Oceanic Niño Index (ONI). El Nino kategori lemah berada pada 0,5–0,9, sedangkan kategori ekstrem berada di atas angka 2,” ujarnya.
Dari sisi global, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut memprediksi potensi El Nino 2026 dapat mencapai intensitas tinggi dan mendekati rekor terkuat dalam sejarah pengamatan. Kondisi ini dinilai berpotensi memperburuk musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia.
Hijrah menambahkan, dampak El Nino tidak hanya terbatas pada kekeringan, tetapi juga dapat meluas pada krisis air bersih, meningkatnya kebakaran hutan dan lahan, gangguan ketahanan pangan, hingga kontribusi terhadap peningkatan emisi karbon dioksida secara global.
Untuk mengurangi risiko tersebut, ia menekankan empat langkah mitigasi utama yang perlu segera dilakukan, yakni optimalisasi cadangan air melalui pengisian bendungan, modifikasi cuaca dengan hujan buatan di wilayah rawan, percepatan masa tanam, serta diversifikasi komoditas pangan.
“Langkah-langkah ini penting agar dampak El Nino dapat diminimalkan, terutama di sektor air dan pangan,” kata Hijrah.
Dari sisi kebijakan, para ahli menilai pemerintah perlu memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi potensi perubahan iklim ekstrem ini, terutama pada pengelolaan sumber daya air dan sistem produksi pangan nasional.
Mitigasi yang disiapkan diharapkan tidak hanya bersifat responsif, tetapi juga berbasis data klimatologi jangka panjang, mengingat El Nino “Godzilla” diproyeksikan memiliki dampak yang lebih luas dibanding fenomena serupa pada tahun-tahun sebelumnya.
Pemerintah bersama lembaga terkait seperti BMKG, BRIN, dan kementerian teknis diharapkan segera mempercepat langkah antisipasi, termasuk kesiapan infrastruktur air dan ketahanan pangan, sebelum puncak musim kemarau 2026 berlangsung.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Kemensos Proses Usulan Sekolah Rakyat di Landak, Ditargetkan Masuk Tahap III Pembangunan 2026
JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) mulai memproses usulan pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, setelah pemerintah daerah menyelesaikan seluruh persyaratan administrasi dan kesi

Bappenas dan Pemerintah Daerah Perkuat Sinergi Percepatan Pembangunan Papua Melalui RAPPP 2025–2029
MIMIKA – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas bersama para gubernur serta bupati dan wali kota se-Tanah Papua menegaskan komitmen untuk mempercepat implementasi Rencana Aksi Percepatan Pe

Satgas TMMD Kodim 1707/Merauke Hadirkan Layanan Kesehatan Door to Door bagi Warga Kampung Wanam
MERAUKE – Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 Tahun Anggaran 2026 Kodim 1707/Merauke tidak hanya melaksanakan pembangunan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyaraka
