Pakar ITB: Implementasi B50 Bisa Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 28 Jul 2026, 14.20

JAKARTA — Pakar transisi energi dari Institut Teknologi Bandung, Retno Gumilang Dewi, menilai penerapan biodiesel B50 atau campuran 50 persen minyak sawit pada bahan bakar dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap impor energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Menurut Retno, situasi geopolitik global saat ini membuat isu energi bukan lagi sekadar persoalan pasokan, tetapi juga berkaitan erat dengan stabilitas politik dan keamanan antarnegara.
“Aspek yang akan menjadikan pasokan energi kita stabil adalah memanfaatkan kekayaan milik kita sendiri. Dengan kita bisa memanfaatkannya, kita tidak akan terdampak dengan yang namanya krisis geopolitik seperti sekarang,” kata Retno dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Ia menjelaskan, setiap negara kini berlomba mengamankan kebutuhan energinya masing-masing di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Karena itu, Indonesia dinilai perlu memperkuat kemandirian energi melalui pemanfaatan sumber daya domestik.
Retno juga memaparkan peta jalan transisi energi Indonesia periode 2025–2060 yang dibagi dalam tiga tahap utama.
Pada tahap pertama 2025–2030, fokus diarahkan pada penguatan ketahanan energi nasional melalui diversifikasi energi, termasuk pemanfaatan gas domestik, co-firing biomassa di PLTU, implementasi biodiesel dari B40 menuju B50, pengembangan bioetanol, hingga percepatan energi baru terbarukan.
Tahap kedua pada 2030–2040 difokuskan pada percepatan pengembangan energi bersih melalui pemanfaatan energi surya, hidro, panas bumi, serta penguatan elektrifikasi di sektor transportasi dan industri.
Sementara tahap ketiga pada 2040–2060 diarahkan menuju dekarbonisasi mendalam guna mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2060, melalui pengurangan bertahap penggunaan batu bara dan pengembangan energi baru seperti hidrogen, amonia, nuklir, hingga teknologi CCS/CCUS.
Meski demikian, Retno menegaskan transisi energi Indonesia tidak dapat dilakukan secara instan karena energi fosil masih memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional selama masa transisi berlangsung.
“Kalau perpindahan energi dilakukan secara mendadak, dampaknya akan sangat besar terhadap ekonomi dan masyarakat. Karena itu, transisi energi Indonesia harus dilakukan secara bertahap dengan tetap mengutamakan ketahanan energi,” ujarnya.
Ia menambahkan, sektor transportasi masih menjadi tantangan terbesar dalam transisi energi nasional karena merupakan konsumen BBM terbesar di Indonesia.
Karena itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat pengembangan kendaraan listrik, penggunaan gas untuk transportasi massal, serta pengembangan bahan bakar rendah emisi secara bertahap guna menekan konsumsi energi fosil di masa depan.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Kemensos Proses Usulan Sekolah Rakyat di Landak, Ditargetkan Masuk Tahap III Pembangunan 2026
JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) mulai memproses usulan pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, setelah pemerintah daerah menyelesaikan seluruh persyaratan administrasi dan kesi

Bappenas dan Pemerintah Daerah Perkuat Sinergi Percepatan Pembangunan Papua Melalui RAPPP 2025–2029
MIMIKA – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas bersama para gubernur serta bupati dan wali kota se-Tanah Papua menegaskan komitmen untuk mempercepat implementasi Rencana Aksi Percepatan Pe

Satgas TMMD Kodim 1707/Merauke Hadirkan Layanan Kesehatan Door to Door bagi Warga Kampung Wanam
MERAUKE – Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 Tahun Anggaran 2026 Kodim 1707/Merauke tidak hanya melaksanakan pembangunan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyaraka
