MAHASISWA KOK SENANGNYA DEMO, KENAPA TIDAK BERDIALOG, apakah Murni aspirasi atau ada yang menukangi aksi?
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 20 Jul 2026, 19.00

Unjuk rasa mahasiswa kembali menjadi sorotan. Di berbagai kota, gelombang orasi, barisan long march, dan spanduk kritis di depan gedung pemerintahan atau kampus kembali memanas. Publik bertanya, mengapa banyak mahasiswa lebih memilih turun ke jalan daripada membuka ruang dialog akademis? Apakah semua aksi murni aspirasi mahasiswa, atau ada kepentingan lain yang “menukangi” unras?
Perlu dipahami bahwa unjuk rasa adalah hak demokratis dan bagian historis dari tradisi perguruan tinggi sebagai ruang kritik. Mahasiswa punya peran penting sebagai pengawal moral bangsa. Ketika saluran formal tertutup atau dianggap tidak efektif, unras sering menjadi jalan terakhir untuk menyampaikan suara. Namun pemerintah telah membuka pintu bagi siapapun, kelompok termasuk mahasiswa.
Budaya kampus yang glorifikasi konfrontasi dimana beberapa lingkungan akademik menyanjung aksi massa sebagai simbol keberanian, sehingga memperkuat pilihan turun ke jalan.
Ada Kepentingan Eksternal yang “Menukangi”?
Tidak bisa ditutup mata bahwa ada dinamika eksternal yang kadang memanfaatkan momentum unras. Kelompok politik, aktor ekonomi, atau organisasi tertentu bisa mendukung aksi dengan tujuan mereka sendiri. Bentuknya beragam:
- Bantuan logistik yang mengikat narasi
- Pengarahan isu yang mengaburkan tuntutan awal
- Penyebaran informasi yang memicu polarisasi
kewaspadaan sangat diperlukan agar suara mahasiswa tidak “dipinjami” kepentingan lain. Transparansi gerakan publikasi tuntutan, sumber pendanaan, dan struktur pengorganisasian dapat menjaga independensi. Akademisi sejati menyeimbangkan keberanian di publik dengan kecermatan di meja perundingan.
Unjuk rasa mahasiswa sebagai alat demokrasi bila digunakan dengan tanggung jawab. Ketika saluran formal gagal, aksi langsung bisa jadi pilihan. Namun, idealnya kedua hal berjalan seiring tuntutan berani di jalan dan argumen matang di meja perundingan. Dengan begitu, suara mahasiswa bukan sekadar riuh, tapi berdaya mengubah kebijakan secara substant tanpa perlu ditumpangi kepentingan pihak lain.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Kemendagri Petakan Daerah Terdampak Pemotongan TKD, Kepala Daerah Diminta Hindari PHK Pegawai
JAKARTA, 30 Juli 2026 — Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tengah memetakan sejumlah pemerintah daerah (pemda) yang mengalami kesulitan fiskal, termasuk kendala dalam membayar gaji pegawai sebagai dampak pen

Bulog Usulkan Beras Premium Bervitamin untuk Dukung Program Makan Bergizi Gratis
JAKARTA – Perum Bulog mengusulkan pengembangan beras premium yang diperkaya vitamin (fortifikasi) sebagai salah satu upaya mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Inisiatif tersebut ditujukan

Ketapang Jadi Daerah Pertama di Kalbar Kirim Siswa ke Sekolah Rakyat, 32 Peserta Didik Berangkat ke Pontianak
KETAPANG – Pemerintah Kabupaten Ketapang memberangkatkan 32 peserta didik untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat Pontianak Tahun Ajaran 2026/2027. Pelepasan siswa yang terdiri dari jenjang Sekolah Dasar (
