El Nino ‘Godzilla’ Ancam Kesehatan Masyarakat, Kemenkes Ingatkan Lonjakan Risiko Penyakit
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 20 Jul 2026, 18.57

Jakarta — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperingatkan potensi dampak serius fenomena El Nino berintensitas kuat atau “Godzilla” terhadap kesehatan masyarakat yang diperkirakan terjadi selama musim kemarau panjang 2026. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, menyatakan kondisi ini berisiko meningkatkan berbagai penyakit akibat penurunan kualitas udara, kebakaran hutan, serta memburuknya sanitasi air di sejumlah wilayah Indonesia.
Aji Muhawarman menegaskan bahwa perubahan cuaca ekstrem akibat El Nino dapat memperburuk kondisi lingkungan yang berpengaruh langsung terhadap kesehatan masyarakat. “Musim kemarau membawa perubahan cuaca yang drastis dengan meningkatnya suhu udara dan penurunan curah hujan, kondisi ini berpotensi meningkatkan kejadian penyakit tular vektor seperti Dengue dan Malaria,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Kementerian Kesehatan juga mengingatkan bahwa minimnya curah hujan akan memperparah polusi udara karena berkurangnya proses alami pembersihan atmosfer. “Partikel berbahaya dapat bertahan lebih lama di udara, terlebih jika terjadi kebakaran hutan dan lahan yang menghasilkan kabut asap, sehingga meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA),” kata Aji.
Selain gangguan pernapasan, Kemenkes mencatat sejumlah penyakit lain yang berpotensi meningkat selama periode kemarau panjang, di antaranya Demam Berdarah Dengue (DBD), malaria, diare, tifoid, kolera, hingga leptospirosis. Penyakit-penyakit tersebut dipicu oleh perubahan ekosistem, berkembangnya vektor penyakit, serta menurunnya kualitas air bersih dan sanitasi lingkungan.
Secara historis, fenomena El Nino kerap berdampak luas di Indonesia, termasuk pada sektor kesehatan. Data sebelumnya menunjukkan peningkatan kasus ISPA dan penyakit berbasis lingkungan saat terjadi kebakaran hutan besar, seperti pada periode El Nino 2015. Selain itu, perubahan pola curah hujan juga memengaruhi siklus hidup nyamuk pembawa penyakit, sehingga memperbesar risiko penularan DBD dan malaria, bahkan saat musim kemarau.
Dalam konteks global, sejumlah laporan juga menunjukkan hubungan antara perubahan iklim ekstrem dan peningkatan penyakit menular. Studi internasional mencatat bahwa fluktuasi suhu dan curah hujan dapat memperluas wilayah penyebaran vektor penyakit, termasuk di kawasan tropis seperti Indonesia.
Dampak dari kondisi ini berpotensi dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat di wilayah dengan akses terbatas terhadap air bersih. Penurunan kualitas udara dapat meningkatkan beban penyakit pernapasan, sementara krisis air bersih berisiko memicu wabah penyakit diare dan infeksi saluran pencernaan. Selain itu, meningkatnya kasus penyakit tular vektor dapat membebani fasilitas layanan kesehatan di daerah.
Kementerian Kesehatan menegaskan pentingnya kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi potensi lonjakan kasus. Pemerintah telah menginstruksikan fasilitas kesehatan untuk meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat sistem deteksi dini. Di sisi lain, masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, memastikan ketersediaan air bersih, serta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala penyakit.
Ke depan, pemerintah juga berencana memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Lingkungan Hidup, guna memitigasi dampak kebakaran hutan serta menjaga kualitas lingkungan selama periode El Nino berlangsung.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Kemensos Proses Usulan Sekolah Rakyat di Landak, Ditargetkan Masuk Tahap III Pembangunan 2026
JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) mulai memproses usulan pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, setelah pemerintah daerah menyelesaikan seluruh persyaratan administrasi dan kesi

Bappenas dan Pemerintah Daerah Perkuat Sinergi Percepatan Pembangunan Papua Melalui RAPPP 2025–2029
MIMIKA – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas bersama para gubernur serta bupati dan wali kota se-Tanah Papua menegaskan komitmen untuk mempercepat implementasi Rencana Aksi Percepatan Pe

Satgas TMMD Kodim 1707/Merauke Hadirkan Layanan Kesehatan Door to Door bagi Warga Kampung Wanam
MERAUKE – Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 Tahun Anggaran 2026 Kodim 1707/Merauke tidak hanya melaksanakan pembangunan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyaraka
