BMKG Peringatkan El Nino Picu Kekeringan dan Karhutla Semester Kedua 2026
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 27 Jul 2026, 18.09

JAKARTA — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memperingatkan potensi peningkatan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia pada semester kedua 2026 akibat penguatan fenomena El Nino. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut musim kemarau tahun ini berpotensi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dengan kondisi yang lebih kering dari normal.
“Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering,” ujar Faisal, Kamis (9/4/2026).
Ia menjelaskan, saat ini kondisi El Nino Southern Oscillation masih berada pada fase netral. Namun, terdapat indikasi penguatan menuju El Nino yang berpotensi memperparah dampak musim kemarau di Indonesia.
BMKG mencatat jumlah titik panas (hotspot) hingga awal April 2026 mencapai 1.601 titik, meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kondisi ini menjadi indikator awal meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.
“Ketika tinggi muka air tanah di lahan gambut mulai menurun, BMKG segera melakukan modifikasi cuaca untuk menjaga kelembapan tanah agar tidak mudah terbakar,” kata Faisal.
Secara spasial, potensi karhutla diperkirakan mulai meningkat di wilayah Riau pada Juni, kemudian meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan, serta berlanjut ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada Juli hingga Agustus.
Fenomena El Nino sendiri merupakan bagian dari siklus iklim global yang ditandai oleh pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis, yang umumnya menyebabkan penurunan curah hujan di Indonesia. Kondisi ini sering dikaitkan dengan meningkatnya kejadian kekeringan dan karhutla, terutama di wilayah dengan lahan gambut.
Dari sisi dampak, peningkatan risiko kekeringan dapat memengaruhi sektor pertanian, ketersediaan air bersih, serta kesehatan masyarakat akibat potensi kabut asap. Sementara itu, karhutla berisiko menimbulkan kerugian ekonomi besar serta gangguan aktivitas sosial di berbagai daerah.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG terus memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan metode pembasahan lahan, khususnya di wilayah rawan gambut. Selain itu, pemerintah mendorong kesiapsiagaan lintas sektor, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat, untuk mengantisipasi potensi bencana yang dapat meningkat seiring perkembangan El Nino.
Ke depan, BMKG akan terus memantau dinamika atmosfer dan memberikan pembaruan peringatan dini guna mendukung langkah antisipasi dan penanganan risiko kekeringan serta karhutla di seluruh wilayah Indonesia.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Kemensos Proses Usulan Sekolah Rakyat di Landak, Ditargetkan Masuk Tahap III Pembangunan 2026
JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) mulai memproses usulan pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, setelah pemerintah daerah menyelesaikan seluruh persyaratan administrasi dan kesi

Bappenas dan Pemerintah Daerah Perkuat Sinergi Percepatan Pembangunan Papua Melalui RAPPP 2025–2029
MIMIKA – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas bersama para gubernur serta bupati dan wali kota se-Tanah Papua menegaskan komitmen untuk mempercepat implementasi Rencana Aksi Percepatan Pe

Satgas TMMD Kodim 1707/Merauke Hadirkan Layanan Kesehatan Door to Door bagi Warga Kampung Wanam
MERAUKE – Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 Tahun Anggaran 2026 Kodim 1707/Merauke tidak hanya melaksanakan pembangunan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyaraka
