BI Perketat Kebijakan, Rupiah Masih Tertekan di Tengah Gejolak Global
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 20 Jul 2026, 18.58

Jakarta - Bank Indonesia (BI) memilih tetap berhati-hati dengan melanjutkan kebijakan moneter ketat demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat konflik di Timur Tengah.
Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22 April 2026, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75%. Kebijakan ini menunjukkan fokus utama bank sentral masih pada stabilitas rupiah, meskipun tetap berupaya mendukung pertumbuhan ekonomi.
Instrumen Moneter Diperkuat
Sikap ketat BI terlihat dari peningkatan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) di berbagai tenor (6, 9, dan 12 bulan). Outstanding SRBI juga naik hingga sekitar Rp885 triliun, menandakan instrumen ini semakin diandalkan untuk:
-
Menyerap likuiditas
-
Menstabilkan nilai tukar
-
Menahan tekanan dari arus modal keluar
Namun, langkah ini belum sepenuhnya efektif. Investor asing justru mencatat net outflow Rp4,15 triliun pada pekan keempat April, menandakan sentimen global masih dominan.
Pasar Obligasi dan Saham Tertekan
Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), yield meningkat—terutama tenor pendek-menengah—menunjukkan naiknya premi risiko. Meski aliran dana asing melemah, pasar masih relatif stabil karena ditopang investor domestik.
Sementara itu, tekanan lebih berat terjadi di pasar saham.
IHSG turun 6,61% ke level 7.129 dalam sepekan. Pelemahan ini dipicu oleh:
-
Eskalasi konflik Timur Tengah
-
Penundaan review indeks oleh MSCI
-
Rencana penghapusan saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi
Saham-saham besar di sektor energi dan properti menjadi penekan utama.
Dampak Global: Harga Minyak dan Kebijakan The Fed
Tekanan eksternal juga datang dari lonjakan harga minyak dunia. Harga Brent Crude Oil naik 16,5% menjadi US$105 per barel akibat ketegangan di Timur Tengah, termasuk gangguan di Selat Hormuz.
Kondisi ini meningkatkan risiko inflasi global dan mempersempit ruang pelonggaran kebijakan oleh bank sentral seperti Federal Reserve.
Rupiah Masih Melemah
Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan. Per 28 April 2026:
-
Dolar AS: sekitar Rp17.140 – Rp17.313
-
Euro: sekitar Rp20.128 – Rp20.334
-
Pound sterling: sekitar Rp23.217 – Rp23.452
Tekanan ini mencerminkan kombinasi faktor global dan arus modal asing yang masih selektif.
Kesimpulan
Langkah BI mempertahankan suku bunga dan memperkuat operasi moneter menunjukkan prioritas utama saat ini adalah stabilitas, bukan ekspansi agresif.
Di tengah ketidakpastian global, kekuatan pasar domestik—terutama likuiditas dalam negeri—menjadi penopang utama. Namun, selama risiko eksternal masih tinggi, rupiah dan pasar keuangan Indonesia kemungkinan tetap menghadapi tekanan.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Kemensos Uji Coba Penyaluran Bansos Melalui 900 Koperasi Desa Merah Putih
JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) akan memulai uji coba penyaluran bantuan sosial (bansos) melalui 900 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang telah siap beroperasi. Langkah ini merupakan bagian dari implem

Pemerintah Percepat Swasembada Gula, Target Produksi Nasional Capai 3 Juta Ton pada 2029
SURABAYA – Pemerintah terus mempercepat upaya mewujudkan swasembada gula putih nasional sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan. Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan swasembada gula konsumsi dapa

Kopdes Merah Putih Dirancang Jadi Pusat Layanan Ekonomi Desa, Bukan Sekadar Simpan Pinjam
JAKARTA – Pemerintah menegaskan bahwa Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih dirancang sebagai pusat layanan ekonomi desa yang memiliki fungsi lebih luas dibanding koperasi konvensional. Program ini tidak
